SIMALUNGUN, PEDA ID – Bencana angin puting beliung menerjang pemukiman padat penduduk di Nagori Karang Anyar, Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, pada Rabu pagi (1/4/2026). Peristiwa maut ini mengakibatkan sedikitnya 81 unit rumah warga mengalami kerusakan dan satu orang dilarikan ke rumah sakit akibat luka serius.
Insiden ini terjadi sekitar pukul 08.00 WIB saat wilayah tersebut diguyur hujan deras yang disertai angin kencang secara mendadak. Pusaran angin yang datang dari arah persawahan langsung menyapu bagian atap rumah warga di beberapa blok pemukiman.
Berdasarkan data terkini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Simalungun, tercatat 81 rumah terdampak dengan tingkat kerusakan yang bervariasi. “Ada yang atap sengnya terbang terbawa angin, namun ada juga beberapa rumah semi-permanen yang rata dengan tanah,” ujar salah satu petugas BPBD di lokasi kejadian.
Selain kerugian materi, seorang warga dilaporkan menjadi korban luka berat. Korban tertimpa material bangunan saat mencoba menyelamatkan diri ke luar rumah. Saat ini, korban sudah dievakuasi ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif karena mengalami trauma di bagian kepala dan tangan.
Pantauan di lokasi menunjukkan suasana yang cukup memprihatinkan. Pohon-pohon besar tumbang melintang di jalan desa, sementara kabel listrik PLN tampak menjuntai hingga ke tanah, memaksa petugas untuk memadamkan aliran listrik demi keamanan warga.
Sejumlah warga dibantu aparat TNI dan Polri kini mulai bergotong-royong membersihkan puing-puing bangunan. “Anginnya sangat cepat, gelap sekali. Tiba-tiba seng di atas rumah saya terbang semua,” ungkap Supriadi, salah satu warga yang rumahnya mengalami rusak sedang.
Pemerintah Kabupaten Simalungun telah menginstruksikan pendirian posko darurat dan dapur umum di sekitar lokasi bencana. BPBD juga tengah menyalurkan bantuan logistik berupa tenda darurat, selimut, dan bahan makanan bagi warga yang rumahnya tidak bisa dihuni untuk sementara waktu.
Wilayah Kecamatan Gunung Maligas sendiri memang dipetakan sebagai daerah rawan cuaca ekstrem selama masa transisi musim ini. Masyarakat kembali diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat melihat awan gelap pekat (Cumulonimbus) yang berpotensi membawa angin kencang.






