SIMALUNGUN, PERDA.ID – Pelaksanaan Job Fair tenaga kerja di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei yang digelar pada 04 hingga 06 Maret 2026 lalu kembali menuai sorotan tajam. Pasalnya, hingga pertengahan Mei 2026, hasil seleksi tersebut tak kunjung diumumkan, meninggalkan ribuan pelamar dalam kondisi tanpa kepastian.
Kegiatan yang digadang-gadang menjadi solusi pengangguran itu kini dinilai publik sebagai acara formalitas demi pencitraan semata. Ribuan pencari kerja yang datang dengan modal harapan justru harus menghadapi ketidakpastian akibat proses yang dianggap amburadul dan minim transparansi.
Ironisnya, para pencari kerja hanya diminta mengisi berkas tanpa penjelasan pasti mengenai daftar perusahaan penerima maupun kuota tenaga kerja yang dibutuhkan. Muncul dugaan kuat bahwa ribuan dokumen tersebut hanya dijadikan data pelengkap untuk kepentingan dokumentasi kegiatan, tanpa ada tindak lanjut rekrutmen yang nyata.
“Kalau memang serius membuka lowongan kerja, kenapa semuanya serba tidak jelas? Mana transparansi perusahaan penerima? Jangan buat masyarakat seperti diberi harapan palsu,” ungkap salah seorang peserta kepada tim redaksi, Kamis (14/05/2026).
Kritik pedas juga mengarah pada minimnya keberpihakan terhadap tenaga kerja lokal di sekitar kawasan industri. Masyarakat mendesak evaluasi total terhadap pelaksanaan bursa kerja ini agar tidak memicu ketidakpercayaan publik terhadap program pemerintah daerah di masa mendatang.
Ketua KNPI Kecamatan Bandar, Jhody Purba, mempertegas sentimen negatif tersebut dengan peringatan keras kepada pihak penyelenggara dan pengelola kawasan.
“Jangan jual mimpi kepada rakyat yang sedang susah mencari pekerjaan,” tegas Jhody Purba.
Jika kegiatan ini hanya berakhir menjadi ajang pengumpulan berkas tanpa hasil nyata, publik menilai wajar apabila agenda tersebut dicap sebagai “pesta harapan palsu” bagi para pencari kerja di Kabupaten Simalungun. (Tim Red)






