PERDAGANGAN, PERDA.ID – “Tiga tahun lalu kata orang masih kecil sudah nikah, masih kecil punya bayi, menyusahkan orang tua. Sekarang kata orang masih kecil sudah sukses, punya usaha, punya mobil, pakai karyawan kerja.”
Untaian kalimat penuh makna ini bukan sekadar fiksi atau dialog dalam film, melainkan potongan kenyataan hidup yang berhasil dilewati oleh Sefia.
Di usianya yang kini baru menginjak 22 tahun, ibu muda sekaligus konten kreator asal Kota Perdagangan, Kabupaten Simalungun ini sukses membuktikan bahwa roda nasib bisa berputar seratus delapan puluh derajat lewat kerja keras dan mental yang kuat. Siapa sangka, di balik kesuksesannya mengelola Donken SK Perdagangan, brand donat kentang yang kini dikenal masyarakat, serta menjadi agen Ice Cream DLIMZ, tersimpan cerita perjuangan luar biasa sepasang suami istri yang tangguh.
Menikah dan mengurus anak di usia yang tergolong sangat muda sempat membuat Sefia kenyang menerima stigma negatif dari orang-orang sekitar yang menganggapnya hanya akan merepotkan orang tua. Namun, alih-alih tumbang karena cibiran tersebut, Sefia justru memilih bangkit dan bergerak mandiri demi membuktikan kemampuan finansialnya. Dari pengalaman hidupnya itu, Sefia memetik pelajaran berharga bahwa orang yang pernah dihina dulu bisa sangat disanjung sekarang, di mana pembuktian terbaik itu salah satunya lewat keberhasilan ekonomi yang dirintis sendiri dari bawah.
Langkah awal merintis bisnis ini tidak ia lalui sendirian. Ditemani sang suami yang menjadi tiang penyangga utamanya, mereka mulai berjualan menggunakan gerobak kayu sederhana dengan sistem menumpang di depan Toko Bandung Jaya, Kota Perdagangan, Kabupaten Simalungun. Saban hari, perjuangan mereka menuntut stamina yang luar biasa. Pasangan suami istri ini harus menghabiskan waktu hingga 5 sampai 6 jam di dapur untuk mengolah adonan donat kentang secara manual. Meski demikian, dagangan mereka sering kali ludes diserbu pembeli hanya dalam waktu 1 hingga 3 jam karena tingginya antusiasme masyarakat.
Daya tarik Donken SK Perdagangan semakin melejit ketika Sefia aktif mendokumentasikan dinamika jatuh bangun usahanya sebagai konten kreator melalui akun Facebook bernama Sefia. Akun pribadinya yang telah bercentang biru itu kini memiliki sekitar 199 ribu pengikut dan menjadi wadah berbagi pengalaman sekaligus inspirasi bagi sesama pelaku UMKM. Berkat konten-konten yang autentik dan apa adanya, pembeli pun membeludak saban hari hingga gerobak kayunya dipenuhi ratusan orang yang memegang nomor antrean sampai tembus nomor urut 100. Fenomena antrean panjang tersebut bahkan kerap disebut pelanggan mirip seperti “antrean sembako.”

Sefia bahkan pernah menerima pesanan borongan sebanyak 26 boks sekaligus dari satu pembeli dengan varian rasa berbeda. Proses pemberian topping jumbo saja memakan waktu dari sore hingga menjelang magrib.
Menariknya, di balik senyum keberhasilan itu, terselip sisi humanis yang menyentuh hati. Jauh di dalam lubuk hatinya, Sefia kerap merasa didera rasa bersalah dan tidak enak hati melihat perjuangan para pelanggannya.
“Jujur dari hati yang paling dalam, ibu-ibu yang antre ini, aku yang takut dimarahi suaminya, Kak, kenapa beli donat aja enggak pulang-pulang,” ungkap Sefia.
Ia kemudian mengenang salah satu peristiwa ketika seorang pelanggan mengaku ditinggal suaminya karena terlalu lama mengantre demi membeli seboks donat.
Namun, popularitas yang luar biasa ini lambat laun memicu dilema di lapangan karena posisi gerobak mereka yang masih menumpang. Deretan kendaraan pembeli yang parkir di kanan-kiri jalan mulai mengganggu aktivitas toko di sekitarnya. Puncaknya, sempat terjadi insiden ketika kendaraan seorang pembeli diserempet mobil akibat parkir yang terlalu memakan badan jalan hingga memicu kemacetan.
Menyadari posisi gerobaknya yang berada di bibir jalan dapat membahayakan pelanggan sekaligus mengganggu ketertiban umum, Sefia dan sang suami akhirnya mengambil keputusan besar untuk menyewa toko sendiri.
Keputusan tersebut terwujud saat Donken SK Perdagangan resmi membuka toko di Jalan Sandang Pangan, tepat di deretan toko Global Listrik atau Cahaya Plastik, Kota Perdagangan, Kabupaten Simalungun. Toko baru yang beroperasi mulai pukul 10.00 WIB hingga 21.00 WIB itu menjadi babak baru perjalanan usaha mereka.
Sefia menerapkan strategi berbagi tugas dengan sang suami. Lapak gerobak lama tetap dipertahankan dan dikelola oleh sang suami, sementara Sefia fokus mengurus operasional toko baru. Walau kini telah memiliki karyawan, ia tetap dikenal sebagai owner yang disiplin. Baginya, menjaga kualitas produk dan pelayanan agar pelanggan tidak kecewa merupakan prioritas utama.
Di tengah nama besar Donken SK Perdagangan yang terus berkembang, muncul pula oknum tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan popularitas usahanya untuk menipu masyarakat. Sefia mengimbau masyarakat agar waspada terhadap akun TikTok palsu bernama @sefia17 yang meminta calon pembeli melakukan transfer uang terlebih dahulu.
“Belum pun buka dasar di toko yang baru, orang lain sudah terima uangnya, pembeli ngambil donatnya di toko jam 8 pagi hari ini, toko pun belum buka sepagi itu,” tutur Sefia.
Ia menegaskan bahwa Donken SK Perdagangan tidak pernah melayani sistem COD maupun pengiriman ke luar kota. Seluruh informasi dan pemesanan resmi hanya dilakukan melalui akun Facebook Sefia, WhatsApp, dan Instagram resmi Donken SK Perdagangan. Pembeli tetap harus datang langsung ke toko untuk mengambil pesanannya.
Perjalanan hidup Sefia menjadi bukti bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Dari seorang pedagang gerobak kaki lima di Kabupaten Simalungun yang sempat diremehkan, kini di usia 22 tahun ia berhasil membangun usaha yang berkembang, memiliki kendaraan dari hasil jerih payah sendiri, membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat, serta menjadi inspirasi bagi banyak orang melalui kerja keras dan ketekunannya.
Catatan Redaksi: Seluruh kisah, kronologi, kutipan, dokumentasi foto, dan informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan konten yang dipublikasikan melalui akun media sosial resmi Sefia serta informasi yang dibagikan oleh yang bersangkutan. PERDA.ID menyajikannya kembali dalam bentuk karya jurnalistik tanpa mengubah substansi cerita.






