15 Tahun Menjadi Driver Bluebird, Amir Hamzah Surbakti Berjuang untuk Keluarga

Karya : Anggi Pradana Nasution

MEDAN, PERDA.ID — Jarak ratusan kilometer dan rentang waktu belasan tahun menjadi saksi bisu perjuangan sesosok pejuang rupiah, yakni Amir Hamzah Surbakti. Selama 15 tahun hidupnya berjuang di balik kemudi taksi Bluebird, pria ini rela menjalani kehidupan merantau di Kota Medan. Semua itu ia tempuh demi satu tujuan mulia: memastikan masa depan dan kebutuhan keluarganya tetap terpenuhi.

Perjalanan yang sangat panjang ini dimulai pada 2007 lalu dan resmi berakhir pada 2022 ketika ia memasuki masa purnabakti. Kini di usianya yang menginjak 64 tahun, pria yang lahir di pinggiran Danau Toba, Samosir, Sumatera Utara ini menikmati hari-hari pensiunnya dengan deretan kenangan berharga.

Amir menjalani rumah tangga dengan seorang perempuan yang berasal dari Kota Perdagangan, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun. Dari buah pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat orang anak, yakni Yusnita Surbakti, Enny Febria Ningsih Surbakti, Cici Nurhafizah Surbakti, dan Kiki Arianto Surbakti.

Namun, keteguhan Amir sebagai kepala keluarga diuji oleh jarak. Selama bekerja memutar roda taksi di jalanan Kota Medan, ia harus rela tinggal jauh dari anak dan istrinya. Rasa rindu terpaksa ia tahan, sebab dalam setahun, Amir biasanya hanya bisa pulang ke kampung halaman sekitar satu kali saja. Pengorbanan besar ini ia jalani tanpa mengeluh demi menunaikan tanggung jawab utamanya menghidupi keluarga.

Ketika masa tugasnya sebagai pengemudi Bluebird berakhir pada 2022, lembaran baru kehidupan Amir dimulai. Dukungan dan sistem kerja yang baik dari perusahaan membantunya melalui masa-masa panjang tersebut dengan stabil. Meski raganya tak lagi bertugas di jalanan, pengalaman selama 15 tahun mengabdi tetap melekat erat sebagai bagian paling penting dalam perjalanan hidupnya.

“Saya sangat berterima kasih dan bangga pernah menjadi bagian dari Bluebird. Banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan selama menjadi driver Bluebird. Saya merasa tumbuh bersama dan melangkah bersama keluarga kecil saya melalui perjalanan bersama Bluebird,” kenang Amir dengan penuh rasa syukur.

Bagi Amir, profesi pengemudi taksi bukan sekadar urusan mencari nafkah harian. Lebih dari itu, setiap meter jalan yang ia tempuh di Medan adalah wujud nyata kasih sayang dan tanggung jawab seorang ayah. Bertahun-tahun hidup di perantauan adalah bukti pengorbanannya demi membesarkan keempat buah hatinya agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik, sejalan dengan visi perusahaan yang terus menopang kesejahteraan para pengemudinya.

Kini, di masa purnabaktinya, Amir menatap ke belakang dengan penuh kebanggaan. Lima belas tahun yang telah ia lalui bersama Bluebird bukan hanya cerita tentang pekerjaan, melainkan kisah abadi tentang perjuangan seorang ayah dalam membangun, menyejahterakan, serta tumbuh bersama keluarganya.

Penulis: Anggi pradana nasutionEditor: anggi pradana nasution

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *