PERDAGANGAN, SIMALUNGUN — Dua perempuan generasi Z (Gen Z), Jihan dan Aca, menunjukkan bahwa lokasi usaha yang tidak berada di jalur dengan volume kendaraan tinggi bukan berarti menjadi penghalang untuk membangun pasar.
Hal itu dijumpai langsung jajaran tim Perda.id saat menepi di warung kuliner Latarkita_22, Jalan Garuda, kawasan Kampung Jawa, Perdagangan, Senin (5/10/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Tim Perda.id saat itu memesan cendol sembari menunggu agenda berikutnya. Dalam pengamatan di lokasi, konsumen terlihat datang silih berganti untuk menikmati berbagai menu yang tersedia.
Founder Perda.id, Hafidz Muchlizar, kemudian berbincang dengan Jihan dan menanyakan sudah berapa lama usaha tersebut berjalan.
“Baru beberapa bulan saja, Bang,” jawab Jihan.
Menariknya, Jihan dan Aca tidak hanya mengandalkan konsumen yang kebetulan melintas di depan lokasi usaha. Keduanya aktif memproduksi konten dan mempromosikan aktivitas usahanya melalui TikTok maupun Instagram @Latarkita_22.
Aktivitas tersebut mulai dari proses produksi, melayani pelanggan hingga keseharian mereka sebagai pelaku UMKM dikemas menjadi konten yang kemudian dibagikan kepada calon konsumen.
Pola tersebut menunjukkan bahwa media sosial dapat digunakan bukan hanya sebagai tempat memajang produk, tetapi juga sebagai sarana membangun perhatian dan mengenalkan usaha kepada calon pelanggan sebelum mereka datang langsung ke lokasi.
Di balik Latarkita_22 juga terdapat cerita keluarga yang menjadi bagian dari perjalanan usaha tersebut.
Jihan dan Aca merupakan saudara sepupu yang terlibat langsung dalam proses pembuatan sejumlah menu.
“Iya, kami berdua. Jadi cendol dan ice cream kami buat sendiri, Bang. Kebetulan kami sepupuan,” ujar Jihan.
Menurut Jihan, usaha tersebut juga merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali usaha keluarga. Sang kakek diketahui telah berjualan cendol dan es krim sejak era 1990-an di Perdagangan.
Usaha tersebut kemudian sempat berhenti sekitar lima tahun karena faktor kesehatan dan usia.
Setelah menyelesaikan kuliah dan sempat menjalankan usaha pakaian thrift, Jihan kembali teringat usaha keluarganya tersebut. Bersama Aca, ia kemudian mencoba menghidupkannya kembali dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan kebiasaan konsumen saat ini.
Untuk menu olahan mi, Jihan juga mengaku telah memiliki pengalaman berjualan sejak masa kuliah.
Kisah Latarkita_22 memperlihatkan bahwa dalam pemasaran era digital, lokasi bukan satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana sebuah usaha dikenal konsumen.
Produk, cerita, kreativitas, konsistensi serta kemampuan memanfaatkan media sosial dapat menjadi bagian dari strategi untuk membangun pasar.
Jihan dan Aca memilih tidak sekadar menunggu orang lewat. Mereka berusaha membuat orang mengenal produk, tertarik melalui konten, lalu datang langsung ke lokasi.
Bagi Perda.id, langkah tersebut menjadi salah satu potret keterlibatan generasi muda di Perdagangan dalam mengembangkan UMKM lokal dengan memanfaatkan pendekatan digital marketing.












