PERDA.ID | SIMALUNGUN – PT Prima Indo Rubber (PIR) kembali menjadi sorotan setelah keluhan masyarakat mengenai bau menyengat yang diduga berasal dari aktivitas perusahaan mencuat ke publik. Kini, warga juga mengeluhkan dugaan persoalan limbah yang dialirkan ke Sungai Bah Bolon dan mengkhawatirkan dampaknya terhadap masyarakat yang masih memanfaatkan sungai tersebut untuk aktivitas sehari-hari.
Keluhan ini memicu kekhawatiran warga, terutama karena sejumlah anak-anak masih menggunakan aliran Sungai Bah Bolon untuk mandi. Masyarakat mempertanyakan keamanan air sungai serta meminta agar pengelolaan dan pembuangan limbah perusahaan dipastikan berjalan sesuai standar lingkungan yang berlaku.
Salah seorang warga berinisial AR mengatakan bahwa kekhawatiran tersebut muncul karena warna air terlihat kontras dengan kondisi air sungai. Selain itu, menurutnya, sisa-sisa getah terkadang masih terlihat keluar dan menimbulkan pertanyaan mengenai proses pengolahan limbah sebelum dibuang ke aliran sungai.
“Masih banyak anak-anak di sini yang mandi sungai. Pihak perusahaan pun harusnya bisa benar-benar menjaga limbah yang dibuang, apakah sudah benar-benar aman, karena warnanya sangat kontras dengan air sungai, bahkan sisa-sisa getah juga terkadang masih keluar. Ini kan berbahaya bagi masyarakat jika pengolahan limbahnya tidak sesuai dengan standar yang seharusnya,” ungkap AR.
Warga berharap pihak perusahaan memberikan perhatian serius terhadap keluhan tersebut dan memastikan bahwa limbah yang dibuang telah melalui proses pengolahan sesuai ketentuan. Mereka juga menginginkan adanya pemeriksaan dari instansi berwenang untuk mengetahui kondisi kualitas air Sungai Bah Bolon secara objektif.
Di tengah keluhan masyarakat tersebut, Aliansi Pemuda Perdagangan menyatakan tengah mendalami persoalan yang berkaitan dengan aktivitas PT PIR. Aliansi tersebut juga mengaku terus berkoordinasi dengan pihak terkait serta mempersiapkan langkah untuk menyampaikan aspirasi masyarakat secara resmi.
Koordinator Aliansi Pemuda Perdagangan, Rwanda, menjelaskan bahwa pihaknya saat ini masih mengumpulkan keluhan warga dan menyusun materi yang akan disampaikan kepada perusahaan maupun pemerintah.
“Sejauh ini kita masih tahap penyusunan materi. Kita akan kumpulkan keluhan, dan kita menyusun draf materi yang akan kita bawa. Nantinya kita akan mengirimkan surat kepada pihak terkait, baik itu perusahaan, pemerintahan setempat, serta dinas-dinas terkait di pemerintahan daerah,” ujar Rwanda.
Menurutnya, keberadaan perusahaan di tengah masyarakat semestinya turut memberikan manfaat bagi warga sekitar. Ia menegaskan bahwa kepentingan dan hak masyarakat tidak boleh diabaikan dalam aktivitas operasional perusahaan, terlebih jika muncul keluhan yang berkaitan dengan lingkungan dan kenyamanan hidup warga.
“Intinya masyarakat di sekitar perusahaan harus benar-benar diperhatikan dan mendapatkan haknya. Bagaimana mungkin perusahaan bisa tumbuh sendiri tanpa melibatkan dan memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar,” pungkasnya.
Keluhan mengenai bau menyengat dan dugaan persoalan limbah di Sungai Bah Bolon menjadi perhatian yang perlu ditindaklanjuti secara serius. Pemeriksaan kualitas air oleh instansi berwenang diperlukan untuk memastikan apakah air sungai memenuhi standar yang berlaku serta mengetahui ada atau tidaknya potensi pencemaran akibat aktivitas pembuangan limbah.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memberikan kepastian kepada masyarakat sekaligus memastikan bahwa pengelolaan limbah industri tidak mengabaikan aspek keselamatan lingkungan dan kesehatan warga yang tinggal di sekitar kawasan perusahaan.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat hasil pengujian kualitas air maupun keterangan resmi dari pihak PT PIR dalam informasi yang diterima redaksi. PERDA.ID membuka ruang bagi pihak perusahaan dan instansi terkait untuk memberikan klarifikasi serta penjelasan mengenai pengelolaan limbah dan tindak lanjut atas keluhan masyarakat.












