SIMALUNGUN, PERDA.ID – Sekolah Sepak Bola (SSB) Perdagangan Jaya dari Berasal Dari Kota Perdagangan , Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, mengikuti ajang Indonesia Grassroot Champion (IGC) Indonesia tingkat nasional kategori U-12 yang berlangsung pada 16–18 Oktober 2026 di Training Ground ASIOP, Bogor, Jawa Barat.
Keikutsertaan SSB Perdagangan Jaya dalam kompetisi tersebut menjadi salah satu langkah untuk mengembangkan bakat sepak bola usia dini sekaligus membawa nama Kabupaten Simalungun ke tingkat nasional.
Namun, di balik perjuangan para pemain muda tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang masih dihadapi, mulai dari pembiayaan keberangkatan, fasilitas latihan, hingga dukungan terhadap pembinaan sepak bola usia dini di daerah.
Pelatih SSB Perdagangan Jaya, Teza Sukmana, mengungkapkan bahwa biaya keberangkatan dan kebutuhan anak-anak selama mengikuti turnamen nasional tersebut ditanggung secara mandiri oleh masing-masing siswa.
Menurut Teza, bantuan yang diterima menjelang keberangkatan hanya berupa uang minum bagi anak-anak selama perjalanan dari kantor camat.
“Biaya mandiri, Bang, dari masing-masing siswa. Kemarin keberangkatan dari kantor camat dikasih bantuan untuk uang minum anak-anak di jalan saja,” ujar Teza saat diwawancarai PERDA.ID, Jumat (16/10/2026).
Teza mengatakan, selama mengikuti berbagai kompetisi, mulai dari tingkat daerah, provinsi hingga nasional, pihaknya belum pernah menerima bantuan pembinaan dari Pemerintah Kabupaten Simalungun.
Selain persoalan pembiayaan, keterbatasan akses menuju lokasi latihan juga menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain muda.
Selama ini, SSB Perdagangan Jaya melaksanakan kegiatan latihan di Lapangan Sei Mangkei. Menurut Teza, jarak menuju lapangan tersebut cukup jauh untuk ditempuh anak-anak yang mengikuti pembinaan sepak bola.
Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala dalam proses pembinaan, mengingat latihan rutin dan fasilitas yang memadai sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan serta menjaga perkembangan para pemain usia dini.
Di tengah keterbatasan tersebut, SSB Perdagangan Jaya tetap berupaya membina anak-anak agar mampu bersaing dalam berbagai kompetisi, termasuk kejuaraan di tingkat nasional.
Teza menjelaskan, pihak SSB Perdagangan Jaya pernah mengajukan proposal permohonan bantuan kepada Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Simalungun.
Namun, menurut keterangannya, pihak SSB saat itu diarahkan untuk menghadap Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
Hingga wawancara dengan PERDA.ID dilakukan, Teza menyampaikan bahwa SSB Perdagangan Jaya belum mendapatkan dukungan pembinaan sebagaimana yang mereka harapkan dari pemerintah daerah.
Ia berharap kondisi tersebut dapat menjadi perhatian bersama agar pembinaan sepak bola usia dini di Kabupaten Simalungun memperoleh dukungan yang lebih berkelanjutan.
Di tengah keterbatasan pembiayaan dan fasilitas latihan, SSB Perdagangan Jaya telah menorehkan sejumlah prestasi dalam berbagai kompetisi sepak bola.
Teza menyebutkan bahwa timnya pernah menjuarai Singa Cup tingkat nasional di Jakarta serta meraih gelar juara Piala FOSBBI tingkat provinsi.
Selain itu, SSB Perdagangan Jaya juga pernah menjuarai Piala Suratin di Simalungun dan menjadi wakil Kabupaten Simalungun selama empat tahun berturut-turut.
Pada 2024, tim tersebut juga berhasil mencapai babak semifinal Piala Suratin tingkat provinsi.
Teza turut menyampaikan bahwa SSB Perdagangan Jaya merupakan satu-satunya SSB di Kabupaten Simalungun yang telah terafiliasi dengan PSSI Sumatera Utara.
Berbagai pencapaian tersebut menjadi bukti perjalanan pembinaan yang telah dilakukan untuk mengembangkan kemampuan para pemain muda. Dengan dukungan yang memadai, mereka diharapkan memiliki kesempatan lebih luas untuk meningkatkan prestasi dan bersaing di tingkat yang lebih tinggi.
Melalui PERDA.ID, Teza menyampaikan harapannya kepada Bupati Simalungun agar memberikan perhatian lebih besar terhadap seluruh sekolah sepak bola yang ada di Kabupaten Simalungun.
Menurutnya, daerah tersebut memiliki banyak anak berbakat yang berpotensi menjadi generasi penerus sepak bola apabila mendapatkan pembinaan dan kesempatan berkompetisi secara berkelanjutan.
“Kami mohon kepada Bapak Bupati untuk memperhatikan seluruh SSB yang ada di Kabupaten Simalungun, karena di Simalungun banyak menyimpan generasi-generasi emas. Kami sangat berharap Pemkab Simalungun banyak memberikan kompetisi-kompetisi yang layak untuk adik-adik,” ungkap Teza.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Simalungun dapat memberikan perhatian melalui penyelenggaraan kompetisi usia dini yang layak, dukungan terhadap fasilitas latihan, serta program pembinaan yang dapat menjangkau seluruh SSB di wilayah tersebut.
Menurutnya, kompetisi yang berkesinambungan dapat menjadi sarana bagi para pemain muda untuk mengukur kemampuan, memperoleh pengalaman bertanding, dan meningkatkan kualitas permainan mereka.
Keikutsertaan SSB Perdagangan Jaya dalam IGC Indonesia tingkat nasional U-12 di Bogor pun diharapkan menjadi motivasi bagi anak-anak untuk terus berlatih dan mengharumkan nama Kabupaten Simalungun.
Perjuangan mereka sekaligus menjadi pengingat bahwa pembinaan sepak bola usia dini membutuhkan kerja sama berbagai pihak, termasuk pengelola SSB, orang tua, masyarakat, dan pemerintah daerah.
Dengan dukungan yang lebih baik, potensi generasi muda Simalungun diharapkan dapat berkembang dan melahirkan pesepak bola berprestasi di masa mendatang.
Catatan Redaksi: Keterangan mengenai pembiayaan, fasilitas latihan, riwayat pengajuan proposal, dan dukungan pemerintah dalam berita ini bersumber dari wawancara dengan pelatih SSB Perdagangan Jaya, Teza Sukmana. Tanggapan dari Dispora maupun Pemerintah Kabupaten Simalungun belum dimuat dalam berita ini.
PERDA.ID — Media Informasi & Kolaborasi













Macam mana mau dapat bantuan dari Pemkab Simalungun, soalnya anak didikan asli SSB Perdagangan Jaya hampir habis, mayoritas anak yang dibawa ke Bogor mengikuti turnamen IGC rata-rata pemain pinjaman dari Tim luar Simalungun. Hanya 4 sampai 5 orang saja siswa didik SSB Perdagangan Jaya yang dipakai dalam setiap event kejuaraan.
Bravo…perda.id